Sejarah Sepak Bola Indonesia
Sejarah Sepak Bola Indonesia
menjadi keinginan banyak pihak untuk dibakukan sehingga publik
mendapatkan informasi yang jelas, utuh, dan ilmiah. Kalau sejarah
kerajaan besar di Nusantara saja dapat teridentifikasi, tapi mengapa sepak bola Indoonesia tidak juga ada kejelasan? Sayang sampai sekarang hal ini masih menjadi misteri yang tak terungkapkan.
Untuk memaparkan dan mengungkapkan sejarah Sepak Bola Indonesia di shalimow.com
dilakukan dengan pencarian dengan mesin pencarianpun tak kunjung
mendapat sajian informasi yang memadai. Demikian juga dengan
menelusurinya melalui pustaka, mulai dari took buku sampai toko buku
bekas di kawasan Senin, Jakarta tak kunjung jua mendapatkan informasi penting juga.
Sempat terfikir oleh aku bahwa jangan-jangan
memang belum ada satupun dokumen yang validitasnya kuat yang mengungkap
Sejarah Sepak Bola Indonesia. Atau paling tidak hasil penelitian
sejarah mengenai Sejarah Sepak Bola Indonesia oleh para sejarahwan, dst.
Dan ketika menuliskan artikel ini saya semakin yakin akan dugaan bahwa
Sejarah lahirnya Sepak Bola Indonesia memang belum ada.
Kesulitan yang pasti terjadi adalah tidak
ditemukanya dokumen sejarah seperti lazimnya peninggalan purbakala yang
berupa candi, tulisan di daun lontar, alat-alat, dll. Mungkin juga
karena olahraga sepakbola dianggap sebagai aktifitas sosial yang kurang
penting sehingga tidak terdokumentasikan dengan baik oleh nenek moyang
kita. Agak berbeda dengan beberapa peninggalan sejarah Romawi dan Eropa
ynag menemukan akan aktifitas sepak bola.
Hal yang sama juga terjadi pada pencarian
mengenai sejarah munculnya olahraga sepak bola dimuka bumi ini yang
masih juga mengundang perdebatan. Beberapa dokumen sejarah dunia
menjelaskan bahwa sepak bola lahir sejak masa Romawi, sebagian lagi
menjelaskan sepak bola berasal dari negeri Tiongkok, dst.
Disisi lain Bill Muray, seorang sejarahwan
sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer,
menjelaskan bahwa permainan sepak bola sudah dikenal sejak awal Masehi,
masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola
yang terbuat dari buntalan kain linen.
Menurut pendapat saya benang kusut tentang sejarah sepakbola Indonesia bisa mulai diurai dengan meneliti dokumen sejarah Indonesia yang ada di negeri Belanda. Menurut analisa saya sejarah olahraga sepakbola ini diawali oleh pendatang dari luar negeri, bukan dari Indonesia asli. Jadi beberapa kemungkinannya adalah:
Menurut pendapat saya benang kusut tentang sejarah sepakbola Indonesia bisa mulai diurai dengan meneliti dokumen sejarah Indonesia yang ada di negeri Belanda. Menurut analisa saya sejarah olahraga sepakbola ini diawali oleh pendatang dari luar negeri, bukan dari Indonesia asli. Jadi beberapa kemungkinannya adalah:
- Para pedagang dari negeri Tiongkok sekitar abad 7 M yang mulai masuk wilayah nusantara khususnya diwilayah kerajaan Sriwijaya. Seperti diketahui permainan masyarakat Cina abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM sudah mengenal olah raga sejenis sepak bola yang dikenal dengan sebutan “tsu chu “.
- Dibawa masuk ke Indonesia oleh para pedagang dari negeri Belanda, kalau mereka awal masuknya ke Indonesia sekitar tahun 1602 M maka sepakbola lahir dari perkembangan aktifitas dagang mereka di Indonesia.
Kedua kemungkinan lahirnya sejarah sepakbola
diatas dapat menjadi kebenaran atau pula menjadi kesalahan, namun tidak
ada yang boleh menjustifikasi kedua hal tersebut kecuali atas dasar
fakta sejarah yang kuat. Disinilah letaknya urgensi dilakukanya
penelusuran sejarah sepak bola nasional Indonesia.
Kita semua berharap pemerintah melalui kementrian pemuda dan olahraga dapat
juga memperhatikan akan hal ini sehingga sejarah olahraga nasional
tidak kehilangan obor. Beberapa seminar sejarah atau penelitian tentang
hal ini mungkin sangat urgen untuk dilakukan sehingga memberikan
beberapa titik awal kejelasan sejarah lahirnya sepakbola nasional.
Tim nasional sepak bola Indonesia pernah memiliki kebanggaan tersendiri, menjadi tim Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia FIFA pada tahun 1938. Saat itu mereka masih membawa nama Hindia Belanda dan kalah 6-0 dari Hongaria,
yang hingga kini menjadi satu-satunya pertandingan mereka di turnamen
final Piala Dunia. Ironisnya, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang
sangat banyak dan memiliki masyarakat dengan minat yang sangat tinggi
terhadap olahraga sepak bola, menjadikan sepak bola olahraga terpopuler di Indonesia (selain bulu tangkis), namun Indonesia tidaklah termasuk jajaran tim-tim kuat di Konfederasi Sepak bola Asia.
Di kancah Asia Tenggara sekalipun, Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara Piala AFF (dulu
disebut Piala Tiger) dan hanya menjadi salah satu tim unggulan.
Prestasi tertinggi Indonesia hanyalah tempat kedua di tahun 2000, 2002,
dan 2004, dan 2010 (dan menjadikan Indonesia negara terbanyak peraih runner-up dari
seluruh negara peserta Piala AFF). Di ajang SEA Games pun Indonesia
jarang meraih medali emas, yang terakhir diraih tahun 1991.
Di kancah Piala Asia, Indonesia meraih kemenangan pertama pada tahun 2004 di China setelah menaklukkan Qatar 2-1. Yang kedua diraih ketika mengalahkan Bahrain dengan skor yang sama tahun 2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
KOSTUM
Kostum tim nasional Indonesia tidak hanya merah-putih sebab ada juga putih-putih, biru-putih, dan hijau-putih. Menurut Bob Hippy, yang ikut memperkuat timnas sejak tahun 1962 hingga 1974, kostum Indonesia dengan warna selain merah-putih itu muncul ketika PSSI mempersiapkan dua tim untuk Asian Games IV-1962, Jakarta.
Saat itu ada dua tim yang diasuh pelatih asal Yugoslavia, Toni Pogacnic, yakni PSSI Banteng dan PSSI Garuda. Yang Banteng, yang terdiri dari pemain senior saat itu, seperti M. Zaelan, Djamiat Dalhar, dan Tan Liong Houw,
selain menggunakan kostum merah-putih juga punya kostum hijau-putih.
Sedangkan tim Garuda, yang antara lain diperkuat Omo, Anjik Ali Nurdin,
dan Ipong Silalahi juga dilengkapi kostum biru-putih. Tetapi, setelah
terungkap kasus suap yang dikenal dengan “Skandal Senayan“, sebelum Asian Games IV-1962, pengurus PSSI hanya
membuat satu timnas. Itu sebabnya, di Asian Games IV-1962, PSSI sama
sekali tidak mampu berbuat apa-apa karena kemudian kedua tim itu
dirombak. Selanjutnya digunakan tim campuran diAsian Games.
Mulyadi (Fan Tek Fong), asisten pelatih klub UMS, yang memperkuat timnas mulai tahun 1964 hingga 1972, menjelaskan bahwa setelah dari era Asian Games, sepanjang perjalanan timnas hingga tahun 1970-an,
PSSI hanya mengenal kostum merah-putih dan putih-putih. Begitu juga
ketika timnas melakukan perjalanan untuk bertanding di sejumlah negara
di Eropa pada tahun 1965. Saat itu setiap kali bermain, tim nasional
hanya menggunakan merah-putih dan putih-putih dengan gambar Garuda yang
besar di bagian dada hingga ke perut. Seragam hijau-putih kembali
digunakan saat mempersiapkan kesebelasan pra-Olimpiade 1976, dan
kemudian digunakan pada arena SEA Games XI-1981 Manila. “Begitu juga
ketika Indonesia bermain di Thailand, di mana saat itu Indonesia menjadi
runner-up Kings Cup 1981,” kata Ronny Pattinasarani yang memperkuat PSSI tahun 1970-1985.
Di Piala Asia 2007 yang digelar mulai 8 Juli hingga Minggu 29 Juli, Nike juga telah mendesain kostum tim nasional Indonesia,
tetapi kali ini bukan hijau-putih, melainkan putih-hijau. Tentu tetap
dengan detail yang sama, seperti Garuda yang selalu bertengger di dada.
Dan pada kostum Timnas Indonesia terakhir yang dibuat Nike pada 2010 untuk Piala Suzuki AFF 2010, motif baru kembali diperkenalkan. Pada kostum ini, terdapat Burung Garuda besar
yang membentang hampir di seluruh bagian depan kostum yang tidak
berwarna tetapi memiliki garis-garis yang memiliki warna hitam cenderung
abu-abu. Sementara pada kostum kedua yang berwarna Putih-Hijau, terdapat motif yang sama, tetapi garis-garis pada burung Garuda berwarna abu-abu muda.